Assalamu alaikum,selamat siang dan salam sejahtera buat kita semua sahabat hacker kali ini saya akan bagikan makalah bahasa indonesia yang berjudul JENIS-JENIS BERBICARA barang kali di antara kalian sahabat hacker lagi nyari tugas yang Sama dengan bahan yang sobat angkat...
monggo silahkan di simak...jika ingin copas jangan lupa sob sumbernya di seratin yah...
KATA
PENGANTAR
Assalamu Alaikum. . . warahmatullahi. . . wabarakatuh. . .
Puji syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas
segala limpahan rahmat serta hidayatnya sehingga makalah ini dapat diselesaikan
walaupun belum sesempurna mungkin. Salawat serta salam senantiasa kita kirimkan
kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw. Yang telah mengajarkan kepada seluruh
umatnya bahwa sesungguhnya Ilmu dan Pengetahuannya adalah sarana untuk lebih
mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.
Makalah ini berjudul “JENIS
– JENIS BERBICARA” dapat dibuat sebagai upaya untuk mempermudah mahasiswa
dalam menyusun makalah seperti ini, bagi setiap yang membaca tugas ini, saya
minta saran dan kritiknya bagi siapa yang membacanya. Makalah ini lebih terarah
dan terlaksana dengan baik serta berguna bagi pembacanya dan tak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada blog sahabat hacker yang telah menyediakan bahan untuk makalah kami...
.....Oktober 2014
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Bahasa adalah lambang bunyi yang diucapkan.kenyataan inilah
yang menempatkan keterampilan berbicara itu sebagai keterampilan berbahasa yang
utama. Para ahli linguistik menempatkan keterampilan berbicara seorang
anak (secara alamiah) menempatkan keterampilan berbicara (speaking) pada
urtan kedua.ini berarti, sebelum keterampilan membaca dan keterampilan menulis
anak terlebih dahulu harus dapat berbicara. Melalui keterampilan berbicaralah
manusia pertama dapat memenuhi keperluan untuk berkomunikasi dengan lingkungan
masyarakat tempat ia berada.
Belajar keterampilan berbicara harus dilaksanakan dengan
menciptakan situasi belajar yang memungkinkan siswa dapat mengembangkan potensi
keterampilan berbicara semaksimal mungkin. Adapun kegiatan belajar-
mengajar yang dilaksanakan harus senantiasa memberikan kesempatan
kepada siswa untuk latih berbicara. sebagaimana keterampilan
berbahasa yang lain, keterampilan berbicara hanya dapat dikuasai dengan baik
apabila si pembelajar diberi kesempatan untuk berlatih sebanyak banyaknya.
Dalam penilaian proses guru mencatat kekurangan dan
kemajuan yang diperoleh siswa . hasil penilaian ini harus disampaikan kepada
siswa secara lisan, secara motivasi siswa dalam berbicara, sasaran yang dicapai
harus jelas. Informasi yang dicatat dalam penilaian merupakan umpan balik yang
tidak ternilai bagi siswa.
B. Rumusan
masalah
Agar lebih terarah dan terlaksana dapat
dirumuskan rumusan permasalahnya yaitu sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan hakekat berbicara?
2. Sebutkan dan jelaskan bebepa jenis berbicara?
3. Faktor-faktor apa saja yang dinilai dalam berbicara?
C. Tujuan
penulisan
Agar lebih terarah dan terlaksana
dapat dirumuskan tujuan penulisannya yaitu sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan
hakekat berbicara .
2. Untuk mengetahui jenis-jenis berbicara.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor apasaja yang
dinilai dalam berbicara.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. HAKEKAT KETERAMPILAN
BERBICARA
Hakekat berbicara merupakan pengetahuan yang sangat
fungsional dalam memahami seluk beluk berbicra. Bahasa adalah lambang bunyi
yang diucapkan. kenyataan inilah yang menempatkan keterampilan berbicara itu
sebagai keterampilan berbahasa yang utama. Para ahli linguistik menempatkan
keterampilan berbicara seorang anak (secara alamiah) menempatkan
keterampilan berbicara (speaking) pada urutan kedua.ini berarti, sebelum
keterampilan membaca dan keterampilan menulis anak terlebih dahulu harus dapat
berbicara. Melalui keterampilan berbicaralah manusia pertama dapat memenuhi
keperluan untuk berkomunikasi dengan lingkungan masyarakat tempat ia berada.
Komunikasi dapat berlangsung secara efektif dan efisien
kalau menggunakan bahasa verbal, karna hakekat bahasa adalah ucapan. Proses
pengucapan / pelafalan bunyi bahasa untuk berkomunikasi menyampaikan informasi,
keinginan, dan mengungkapkan gagasan dan perasan itulah sesungguhnya hakekat
keterampilan berbicara (Tarigen, 1993: 73-75).
v Ø Tujuan
belajar keterampilan berbicara adalah agar para siswa :
a. Mampu memenuhi dan
menata gagasan dengan penalaran yang logis dan sistimatis
b. Mampu menuangkan gagasan
tersebut kedalam bentuk-bentuk tuturan yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
c. Mampu mengucapkan
dengan jelas dan lancar.
d. Mampu memilih ragam bahasa
Indonesia.
B. JENIS-JENIS
BERBICARA
Bila diperhatikan mengenai bahasa pengajaran akan kita
dapatkan berbagai jenis berbicara. Antara lain: diskusi, percakapan, pidato
menjelaskan, pidato menghibur, ceramah. Berdasarkan pengamatan ada lima
landasan yang digunakan dalam mengklasifikasikan kegiatan berbicara yaitu:
a) Situasi
Aktivitas berbicara terjadi dalam suasana, situasi, dan
lingkungan tertentu. Situasi dan lingkungan itu dapat bersifat
formal atau resmi, mungkin pula bersifat informal atau tak resmi. Dalam situasi
formal pembicara dituntut berbicara secara formal, sebaliknya dalam situasi tak
formal, pembicara harus berbicara tak formal pula. Kegiatan berbicara yang
bersifat informal banyak dilakukan dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Suksesnya suatu pembicaraan tergantung pada pembicara dan pendengar. Kegiatan
berbicara yang bersifat informal banyak dilakukan dalam kehidupanmanusia
sehari-hari, Untuk itu, diperlukan beberapa prasyarat.
v Jenis
kegiatan berbicara informal meliputi :
a.
Tukar pengalaman,
b .
Percakapan,
c .
Menyampaikan berita,
d .
Menyampaikan pengumuman,
e .
Bertelepon dan
f .
memberi petunjuk .
v Sedangkan
jenis kegiatan yang bersifat formal meliputi :
a.
Perencanaan dan penilain
b.
Ceramah
c .
Interview
d.
Prosedur parlementer dan Bercerita.
b) Tujuan
Akhir pembicaraan, pembicara menginginkan respons dari
pendengar. Pada umumnya tujuan orang berbicara adalah untuk menghibur,
menginformasikan, menstimulasikan dan meyakinkan atau menggerakan
pendengarnya. Sejalan dengan tujuan berbicara tersebut di atas dapat kita
klasifikasi berbicara menjadi 5 jenis, yaitu antara lain:
a. Berbicara
menghibur, biasanya suasana santai, rileks dan kocak. Tidak berarti
bahwa berbicara menghibur tidak dapat membawakan pesan dalam berbicara
menghibur tersebut pembicara berusaha membuat pendengarnya senang gembira dan
bersukaria.
Contoh:
Jenis berbicara ini, antara lain lawakan, guyonan
dalam ludruk, srimulat, cerita kabayan, cerita Abu Nawas dan lain-lain.
b. Berbicara
menginformasikan. Dalam suasana serius, tertib dan
hening. Berbicara menginformasikan pembicara berusaha berbicara jelas, sistematis
dan tepat isi agar informasi benar-benar terjaga keakuratannya.
Contoh:
Ø Penjelasan
menteri Sekneg sehabis sidang kabinet
Ø Penjelasan
menteri penerangan mengenai sesuatu kejadian, peraturan pemerintah, dan
sebagainya.
Ø Penjelasan
PPL di depan kelompok tani, dan
Ø Penjelasan
instruktur pada siswanya.
c. Berbicara
menstimulasi, berbicara menstimulasi juga berusaha serius,
kadang-kadang terasa kaku, pembicara berkedudukan lebih tinggi dari
pendengarnya dapat disebabkan oleh wibawa, pengetahuan, pengalaman, jabatan
atau fungsinya yang memang melebihi pendengarnya. Berbicara menstimulasi,
pembicara berusaha membangkitkan semangat pendengarnya sehingga pendengar itu
bekerja lebih tekun, berbuat lebih baik, bertingkah lebih sopan, belajar lebih
berkesenambungan. Pembicara biasa dilandasi oleh rasa kasih sayang, kebutuhan
kemauan, harapan, dan inspirasi pendengar.
Contoh:
1. Nasehat
guru terhadap siswa yang malas, melalaikan tugasnya
2. Pepatah
petitih, pengajaran ayah kepada anaknya yang kurang senonoh
3. Nasehat
dokter pada pasiennya
4. Nasehat
atasan pada karyawan yang malas dan
5. Nasehat
ibu pada putrinya yang patah hati
d. Berbicara
meyakinkan, sesuai dengan namanya, bertujuan meyakinkan pendengarnya,
suasananya pun bersifat serius, mencekam dan menegangkan. Pembicara berusaha
mengubah sikap pendengarnya dari tidak setuju menjadi setuju, dari tidak
simpati menjadi simpati dari tidak mau membantu menjadi mau membantu. Pembicara
harus melandaskan pembicaraannya kepada argumentasi dan nalar, logis masuk
akal, dan dapat bertanggungjawabkan dari segala segi.
Contoh:
1. Pidato petugas KBN didepan
masyarakat yang anti keluarga berencana
2. Pidato petugas Depsos pada
masyarakat daerah kritis tetapi segan bertransmigrasi,
3. Pidato pimpinan partai
tertentu di daerah yang kurang menyenangi partai tersebut,
4. Pidato calon kepala desa di
daerah yang belum simpati padanya
5. Pidato pimpinan BRI pada
masyarakat yang lebih senang berhubungan dengan sengkulak.
e. Berbicara
menggerakkan, juga menuntut keseriusan baik dari segi
pembicara maupun dari segi pendengarnya. .Pembicara dalam berbicara
mendengarkan haruslah berwibawa, tokoh, idola, panutan masyarakat.
Misal:
- Bung Tomo dapat membakar semangat juang
para pemuda pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya
f. Metode
penyampain
Bila belum, perhatikan empat (4) cara yang biasa digunakan
orang dalam menyampaikan pembicaraannya, antara lain yaitu:
v Penyampaian secara mendadak, terjadi karena seseorang
tanpa direncanakan sebelumnya harus berbicara di depan umum. Hal ini dapat
tertjadi karena tuntutan situasi.
Misal:
Karena pembicara yang telah direncanakan berhalangan hadir
tampil, maka terpaksa secara mendadak dicarikan penggantinya atau dalam suatu
pertemuan seseorang diminta secara mendadak memberikan kata sambutan, pidato
perpisahan, dan sebagainya.
· ü Penyampaian
berdasarkan cacatan kecil, biasanya berupa butir-butir penting sebagai pedoman
berbicara. Berbasarkan catatan itu pembicara bercerita panjang lebar mengenai
sesuatu hal. Hal ini dapat berhasil apabila pembicara sudah mempersiapkan dan
menguasai isi pembicaraan secara mendalam sebelum tampil di depan umum.
ü v Penyampaian
berdasarkan hafalan, berbicara berdasarkan hafalan memang banyak ke lemahannya,
pembicara mungkin lupa akan beberapa bagian dari isi pidatonya,
perhatiannya tidak bisa diberikan kepada pendengar, kaku dan kurang penyesuaian
pada situasi yang ada.
ü v Penyampain
berdasarkan naskah. Berbicara yang berlandalandaskan naskah di laksanakan dalam
situasi yang menuntut kepastian, bersifat resmi dan menyangkut kepentingan
umum.
g. Jumlah penyimak
Komunikasi lisan melibatkan dua pihak, yaitu pendengar dan
pembicara. Jumlah peserta yang berfungsi sebagai penyimak dalam komunikasi
lisan dapat bervariasi misalnya satu orang, babarapa orang (kelompok
kecil) dan banyak orang (kelompok besar). Berdasarkan jumlah penyimak itu,
berbicara dapat di bagi atas tiga (3) jenis, yaitu:
a.
Berbicara antarpribadi, atau bicara empat mata,
terjadi apabila dua pribadi membicarakan, mempercakapkan, merundingkan, atau
mendiskusikan.
b.
Berbicara dalam kelompok kecil, terjadi apabila
seseorang pembicara menghadapi sekelompok kecil pendengar, misanya 3-5 orang
c.
Berbicara dalam kelompok besar. Terjadi apabila
seorang pembicara menghadapi pendengar berjumlah besar atau massa.
h. Peristiwa
khusus
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menghadapi
berbagai kegiatan. Sebagian dari kegiatan itu dikategorikan sebagai peristiwa
khusus, istimewahatau spesifik. Contoh kegiatan khusus itu adalah ulang tahun,
perpisahan, perkenalan dan lain-lain. Berdasarkan peristiwa khusus itu
berbicara atau berpidato dapat bigolongkan atas enam jenis.
a .
Pidato presentasi, ialah pidato yang dilakukan
alam suasana pembagian hadiah
b.
v Pidato penyambutan atau penyambutan
berisi ucapan selamat datang pada tamu.
c.
v Pidato perpisahan, berisi kata-kata
perpisahan
d.
v Pidato perkenalan, berisi penjelasan
pihak yang memperkenalkan tentang nama, jabatan , pendidikan, pengalaman kerja,
keahlian yang diperkenalka kepada tuan rumah.
e.
v Pidato nominasi (mengunggulkan) berisi
pujian, alasan, mengapa sesuatu itu diunggulkan.
C. FAKTOR-FAKTOR
YANG DINILAI DALAM BERBICARA
Penilain keterampilan berbicara dapat dilakukan pada saat
kegiatan pelajaran, yang disebut proses, dan setelah kegiatan pembelajaran yang
disebut penilain hasil . Dalam penilaian proses guru mencatat kekurangan dan
kemajuan yang diperoleh siswa . hasil penilaian ini harus disampaikan kepada
siswa secara lisan, secara motivasi siswa dalam berbicara, sasaran yang dicapai
harus jelas. Informasi yang dicatat dalam penilaian merupakan umpan balik yang
tidak ternilai bagi siswa.
Mengingat kemampuan berbicara memerlukan latihan dan
bimbingan yang intensif. Penilaian yang mengukur dan menilai sutu kegiatan
saja, tetapi hendaknya berlanjut dan bertujuan meningkatkan keterampilan
berbicara pada kegiatan berikutnya.
v Ø Faktor-faktor yang
dinilai dalam berbicara:
1. Faktor
kebahasaan yang mencakup
a.
Pengucapan vokal
b.
Penempatan tekanan
c.
Pilihan kata / ungkapan atau diksi
d.
Variasi kata
e Sruktur kalimat dan
f . Ragam kalimat
2. Faktor nom
kebahasaan yang mencakup :
a.
Keberanian dan semangat
b.
Kelancaran
c.
Gerak-gerik dan mimik
d.
Penguasaan topik
e.
Penalaran atau pemahaman / pengungkapan materi
wacana.
Menurut Mulgrave (Tarigan, 1986: 22) menyatakan bahwa
analisis mengenai proses inteluktual yang diperlukan untuk mengembangkan untuk
kemampuan berbicara menunjukan perlunya pengaturan bahan bagi penampilan lisan,
perlunya penggunaan ekspresi yang jelas dan efektif bagi komunikasi yang khusus
tersebut, dan perlunya berbicara suatu keterampilan yang penuh seksama dan
perhatian.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan diatas saya dapat menarik
kesimpulannya yaitu sebagai berikut :
Interaksi antara pembicara dan pendengar yang bersifat
langsung dan ada pula yang tidak langsung.dan pembicara berusaha agar pendengar
memahami atau menangkap makna apa yang disampaikan.
Belajar keterampilan berbicara harus dilaksanakan dengan
menciptakan situasi belajar yang memungkinkan siswa dapat mengembangkan potensi
keterampilan berbicara semaksimal mungkin. Adapun kegiatan
belajar-mengajar yang dilaksanakan harus senantiasa memberikan
kesempatan kepada siswa untuk latih berbicara. sebagaimana keterampilan
berbahasa yang lain, keterampilan berbicara hanya dapat dikuasai dengan baik
apabila si pembelajar diberi kesempatan untuk berlatih sebanyak banyaknya.
Dan untuk itu diperlukan beberaa prasyarat kepada seseorang
pembicara dan pendengar antara lain yaitu:
a.
Menguasai masalah yang dibicarakan. Penguasaan
masalah akan membutuhkan keyakinan kepada diri pembicara, sehingga akan
menimbulkan rasa percaya diri yang merupan modal utama bagi pembicara.
b.
Mulai berbicara jika situasi memungkinkan.
Sebelum mulai pembicaraan, hendaknya pembicara memperhatikan situasi
seluruhnya,khususnya pendengar.bila pendengar sudah siap baru mulai berbicara.
c.
Pengarahan yang tepat akan dapat memancing
perhatian pendengar. Sesudah memberikan kata salam dalam membuka pembicaraan,
seorang pembicara yang baik akan menginformasikan tujuan ia berbicara dan
menjelaskan pentingnya pokok pembicaraan itu bagi pendengar.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas 2012.:jenis – jenis berbicara
Tarigen, Henry Guntur. Psiko Sastra : Telah Hakekat
Berbicara. Malang.
http:bang-fajar.blogspot.com
Tarigan, Diago. (1994). Keterampiln Berbahasa Indonesia.
Rineka Cipta: Jakarta
HARGAI
LAH KARYA ORANG LAIN
Jika ingin copas seratakan dengan sumbernya
jIKa ada yang kurang dari artikel di atas silahkan coment ^_^ Terima Kasih...!!!

Post a Comment